“Kita lebih mungkin mati pada hari ulang tahun kita dibandingkan pada hari lainnya.”
Penelitian ini menguji 2,4 juta data
kematian selama lebih 40 tahun. Ternyata risiko mati di hari kelahiran
meningkat dengan bertambahnya usia manusia (18% terjadi pada orang
berusia di atas 60 tahun). Beberapa kematian di hari kelahiran berkaitan
dengan gangguan kesehatan (21,5% karena stroke dan 18,5% karena
penyakit jantung). Sedangkan lebih 35% kematian di hari kelahiran
disebabkan oleh tindakan bunuh diri dan 28,5% akibat kecelakaan.
|
Tahu nggak sih kamu, University of Kansas pernah meminta 208 orang sukarelawan untuk mengisi kuisioner mengenai gaya hidup dan perilaku mereka. Selanjutnya para periset memotret sepatu yang paling sering dikenakan para sukarelawan. Foto-foto sepatu itu diperlihatkan kepada sejumlah mahasiswa yang berpartisipasi dalam riset. Mereka lalu diminta untuk menebak ciri-ciri pemakai sepatu (jenis kelamin, usia dan sifat). Ternyata para mahasiswa berhasil menebak dengan jitu sifat para sukarelawan penelitian. Menurut mereka sepatu yang mencolok adalah milik orang berkepribadian ekstrovert; sepatu yang tampak tak nyaman dipakai adalah milik orang yang kalem dan fungsional; sedangkan sepatu praktis milik orang yang ramah. |
Lain lagi dengan riset yang dilakukan di University of Missouri. Para peneliti di universitas itu mengembangkan sebuah skala untuk mengukur kepribadian berdasarkan aktivitas di Facebook. Mereka memformulasikan skala itu dengan mensurvei cara sukarelawan menggunakan halaman Facebook masing-masing dan memberikan mereka tes kepribadian. Menurut skala itu, individu yang suka mengambil risiko cenderung melakukan aktivitas yang terbuka, misalnya sering memperbarui status dan mengunggah foto. Sementara orang yang lebih tertutup cenderung melakukan aktivitas familiar dan rutin, seperti membaca news feeds tanpa melakukan interaksi langsung. |
|
Menurut sebuah penelitian yang termuat di IEEE Xplore: Technology & Society Magazine, depresi sering kali berkaitan dengan perubahan dalam penggunaan Internet. Penelitian ini melibatkan 216 mahasiswa tingkat akhir sebagai sukarelawan. Mereka diberi kuisioner guna mengukur tingkat depresi. Hasilnya kemudian diperbandingkan dengan penggunaan Internet (traffic flow dan bandwidth, bukan isi tulisan). Perbandingan itu menunjukkan bahwa orang yang sedang depresi mengirim lebih banyak email, lebih sering menggunakan Internet, dan lebih kerap berganti-ganti aplikasi. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar